3 Macam Pilihan Bronkodilator Untuk Penderit Penyakit Paru Obstruktif Kronik

  • Whatsapp

PPOK (penyakit paru obstruktif kronik) ialah penyakit yang mengakibatkan peradangan pada aliran paru hingga menghalangi saluran udara. Orang dengan penyakit ini, akan seringkali batuk berdahak, mengi, serta susah untuk bernapas. Untuk menurunkan tanda-tanda, pasien PPOK membutuhkan obat, diantaranya bronkodilator. Tetapi, seperti apa type bronkodilator yang pas untuk pasien PPOK?

ntuk menyembuhkan PPOK, ada banyak type bronkodilator yang umumnya dipakai, yaitu agonis beta-adrenergik, antikolinergik, serta methylxanthines. Silahkan ulas satu demi satu type bronkodilator untuk PPOK.

1. Agonis beta-adrenergik (agonis beta)

Type obat ini mengikat reseptor detil di paru, yaitu beta-adrenoreceptor. Obat ini bereaksi bisa bertahan bertambah cepat seputar 4 sampai 6 jam. Juga bisa bertahan lebih lama, yakni lebih dari 12 jam. Obat ini lebih dipakai dengan cara inhalasi sebab bisa menurunkan tanda-tanda bertambah cepat.

Type agonis-beta yang di setujui pemakaiannya diantaranya:

  • Beta-agonis short acting: albuterol, xopenex, metaproterenol, serta terbutaline
  • Beta-agonis long acting: salmeterol, performomist, bambuterol, serta indacaterol

Resikonya obat seringkali berlangsung pada obat oral sebab dosisnya yang mungkin tidak pas. Resikonya yang ada biasanya detak jantung bertambah cepat, jantung berdebar, tremor, serta masalah tidur.

2. Antikolinergik

Type bronkodilator untuk PPOK ini kerja dengan memblok neurotransmitter yang disebutkan asetilkolin hingga kejang serta kontraksi pada aliran udara bisa berhenti. Obat ini umumnya ada berbentuk inhalasi sebab dampaknya yang lebih mudah.

Antikolinergik jadi pilihan paling baik jika pasien PPOK tidak dapat memakai agonis-beta sebab mempunyai permasalahan pada jantung. Type antikolinergik yang di setujui pemakaiannya, diantaranya atrovent (ipratropium), spiriva (tiotropium), serta aclidinium.

Resikonya yang biasa berlangsung ialah mulut kering serta berasa ada logam di mulut. Pada beberapa masalah, obat ini bisa mengakibatkan glukoma.

3. Methylxanthines

Type bronkodilator untuk PPOK ini kerja memudahkan penyumbatan saluran udara, kurangi peradangan, serta menurunkan kontraksi bronkial. Obat ini jadikan pilihan paling akhir waktu agonis-beta atau antikolinergik tidak memberi dampak optimal. Sayangnya, obat ini memunculkan resikonya yang semakin besar dibandingkan obat lain.

Obat ini tidak bisa dihirup, tetapi diminum berbentuk pil dengan oral, supositoria, atau disuntikkan pada pembuluh darah vena. Obat methylxanthine yang di setujui pemakaiannya, diantaranya teofilin serta aminofilin.

Resikonya lebih biasa berlangsung saat methylxanthines diberi melalui suntikan. Dampaknya yang umumnya berlangsung ialah sakit kepala, sulit tidur, mual, diare, serta mulas.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *